Sabtu, 31 Maret 2012

TEKNIK ASERTIF TRAINING


A.     Pengertian Asertif Training (Latihan Ketegasan)
Asertivitas merupakan suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Latihan asertif merupakan latihan keterampilan-sosial yang diberikan pada individu yang diganggu kecemasan, tidak mampu mempertahankan hak-haknya, terlalu lemah, membiarkan orang lain merongrong dirinya, tidak mampu mengekspresikan amarahnya dengan benar dan cepat tersinggung (lutfifauzan).

Corey (1995: 87) menyatakan bahwa asumsi dasar dari pelatihan asertifitas adalah bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini serta sikapnya terhadap orang lain dengan tetap menghormati dan menghargai hak-hak orang tersebut. Teknik ini digunakan untuk melatih klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar. Latihan ini terutama berguna di antaranya untuk membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan perasaan tersinggung, kesulitan menyatakan tidak, mengungkapkan afeksi dan respon posistif lainnya. Cara yang digunakan adalah dengan permainan peran dengan bimbingan konselor. Diskusi-diskusi kelompok juga dapat diterapkan dalam latihan asertif ini.

B.     Jenis perilaku asertif
Ada tiga katagori perilaku asertif
1.      Asertif penolakan
Ditandai oleh ucapan memperhalus seperti : maaf.
2.      Asertif pujian
Ditandai oleh kemampuan untuk mengekspresikan perasaan positif seperti menghargai, menyukai, mencintai, mengagumi, memuji dan bersyukur.
3.      Asertif permintaan
Terjadi jika seseorang meminta oranglain melakukan sesuatu yang memungkinkan kebutuhan atau tujuan seseorang tercapai, tanpa tekanan atau paksaan.

C.     Tujuan Asertif Training
Tujuan dari asertif training, yaitu:
1.      Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain.
2.      Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak
3.      Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain
4.      Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalm berbagai situasi social
5.      Menghindari kesalah pahaman dari pihak lawan komunikasi

D.    Manfaat Asertif Training
Manfaat dari teknik Asertif Training, yaitu:
1.      Melatih individu yang tidak dapat menyatakan kemarahan dan kejengkelan
2.      Melatih individu yang mempunyai kesulitan untuk berkata tidak dan yang membiarkan orang lain memanfaatkannya
3.      Melatih individu yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menyatakan pikiran, kepercayaan, dan perasaan-perasaannya
4.      Melatih individu yang sulit mengungkapkan rasa kasih dan respon-repon positif yang lain
5.      Meningkatkan penghargaan terhadap diri sendir
6.      Membantu untuk mendapatkan perhatian dari orang lain
7.      Meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan
8.      Dapat berhubungan dengan orang lain dengan konflik, kekhawatiran dan penolakan yang lebih sedikit

E.     Prosedur Asertif Training
Prosedur dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku dalam konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling Methode (1984):
1.      Menentukan kesulitan konseli dalam bersikap asertif
Dengan penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan pada konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu menuruti ajakan temannya.
2.      Mengidentifikasi perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya.
Diungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang diinginkannya.
3.      Menentukan perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan.
Dengan kata lain, konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli untuk menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya. Contoh: Dengan mempelajari secara mendetail kasus yang dialami konselinya, konselor menarik kesimpulan awal bahwa, konseli tidak perlu menuruti terus ajakan temannya yang sebenarnya tidak ia sukai. Perilaku yang ia perlukan adalah menolak dengan jujur, tegas dan sopan ajakan temannya tersebut.

4.      Membantu klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan masalahnya.
Setelah konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, kemudian ia menjelaskannya pada konseli tentang apa yang seharusnya dilakukan dan dihindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan memperkuat penjelasannya.
5.      Mengungkapkan ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang ada difikiran konseli.
Konselor dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi penyebab masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung timbulnya masalah tersebut.
6.      Menentukan respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahannya (melalui contoh-contoh).
7.      Mengadakan pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya.
Konselor memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan, menurut contoh yang diberikan konselor sebelumnya.
8.      Melanjutkan latihan perilaku asertif
9.      Memberikan tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku asertif yang dimaksud.
Untuk kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada konseli untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.
10.  Memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan.
Penguatan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas terhadap permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil mafaat dari kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat menerapkan apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.

Ada empat kategori yang dikelompokkan dalam perilaku asertif (Walker,1996):
1.      Kemampuan untuk berinisiasi dengan memulai percakapan, menyambung dan menghentikan percakapan
2.      Berani berkata “tidak”
3.      Mengajukan suatu pertanyaan dan keinginan
4.      Mengekspresikan perasaan suka dan tidak suka

Karakteristik asssetiveness (social skills) training, yaitu:
1.      Cocok untuk individu yang memiliki kebiasaan respon – cemas (anxiety-response) dalam hubungan interpersonal, yang tidak adaptif, sehingga menghambat untuk mengekspresikan perasaan dan tindakan yang tegas dan tepat.
2.      Latihan asertif terdiri dari 3 komponen, yaitu : Role Playing, Modeling, Social Reward & Coaching
3.      Dalam situasi social dan interpersonal, muncul kecemasan dalam diri individu, seperti:
a.       Merasa tidak pantas dalam pergaulan social
b.      Takut untuk ditinggalkan
c.       Kesulitan mengekspresikan perasaan cinta dan afeksinya terhadap orang-orang disekitarnya.

Ciri dari individu yang Asertif yaitu:
1.      Mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan dirinya, baik secara verbal maupun non verbal secara bebas, tanpa perasaan takut, cemas, dan khawatir.
2.      Mampu menyatakan “tidak” pada hal-hal yang memang dianggap tidak sesuai dengan kata hati atau nuraninya.
3.      Mampu menolak permintaan yang dianggap tidak masuk akal, berbahaya, negatif, tidak diinginkan, atau dapat merugikan orang lain.
4.      Mampu untuk berkomunikasi secara terbuka, langsung, jujur, terus terang sebagaimana mestinya.
5.      Mampu menyatakan perasaannya secara jelas, tegas, jujur, apa adanya, dan sopan.
6.      Mampu untuk meminta tolong pada orang lain pada saat kita memang membutuhkan pertolongan.
7.      Mampu mengekspresikan kemarahan, ketidaksetujuan, perbedaan pandangan secara proporsional.
8.      Tidak mudah tersingung, sensitif, dan emosional.
9.      Terbuka untuk ruang kritik.
10.  Mudah berkomunikasi, hangat, dan menjalin hubungan sosial dengan baik.
11.  Mampu memberikan pandangan secara terbuka terhadap hal-hal yang tidak sepaham.
12.  Mampu meminta bantuan, pendapat, atau pandangan orang lain ketika sedang menghadapi masalah.

Ada dua prinsip pokok dari Pelatihan asertif, yaitu:
1.      Prinsip larangan yang berbalasan, sebagaimana yang dikemukakan Wolpe (1969), memandang bahwa pelatihan asertif sebagai suatu kejadian special dari larangan yang berbalasan. Prinsip ini mengusulkan bahwa rangsangan yang nyata akan menimbulkan suatu respon kecemasan dan respon kecemasan tersebut tidak dapat dielakkan.
2.      I’m OK – You’re OK, kita dengan bebas melaupakan perasaan apapun yan kita rasakan, dan kita sendirilah yang bertanggung jawab terhadap perasaan kita. Kita tidak akan membiarkan orang lain mengambil manfaat dai kita dengan bebas, tetapi orang lain pun mempunyai kebebasan untuk mengungkap apa yang dirasakan. Kita tidak akan menyerang orang lain, bahkan akan menerima kehadiran orang lain dengan sikap terbuka. Ini adalah pengungkapan perasaan secara asertif. (Sawitri Supardi dalam Kompas Cybermedia)
F.      Kelebihan dan Kekurangan
1.      Kelebihan pelatihan asertif ini akan tampak pada:
a.        Pelaksanaannya yang cukup sederhana,
b.       Penerapannya dikombinasikan dengan beberapa pelatihan seperti relaksasi, ketika individu lelah dan jenuh dalam berlatiih, kita dapat melakukan relaksasi supaya menyegarkan individu itu kembali. Pelatihannya juga bisa menerapkan teknik modeling, misalnya konselor mencontohkan sikap asertif langsung dihadapan konseli. Selain itu juga dapat dilaksanakan melalui kursi kosong, misalnya setelah konseli mengangankan tentang apa yang hendak diutarakan, ia langsung mengutarakannya di depan kursi yang seolah-olah dikursi itu ada orang yang dimaksud oleh konseli.
c.        Pelatihan ini dapat mengubah perilaku individu secara langsung melalui perasaan dan sikapnya.
d.       Disamping dapat dilaksanakan secara perorangan juga dapat dilaksanakan dalam kelompok. Melalui latihan-latihan tersebut individu diharapkan mampu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya, mampu berfikir relistis terhadap konsekuensi atas keputusan yang diambilnya serta yang paling penting adalah menerapkannya dalam kehidupan ataupun situasi yang nyata.
2.      Kelemahan, pelatihan asertif ini akan tampak pada,
a.        Meskipun sederhana namun membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ini juga tergantung dari kemampuan individu itu sendiri
b.       Bagi konselor yang kurang dapat mengkombinasikannya dengan teknik lainnya, pelatihan asertif ini kurang dapat berjalan dengan baik atau bahkan akan membuat jenuh dan bosan konseli/peserta, atau juga membutuhkan waktu yang cukup lama.


Daftar Pustaka


Corey, Gerald. 2007. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung:PT Refika Aditama.
misscounseling.blogspot.com/.../tehnik-konseling-asertif-training.html/ diunduh pada 21 Oktober 2011..

1 komentar:

  1. pak mau tanya perilaku negatif apa saja yang bisa di atasi dengan perilaku asertif

    BalasHapus