Sabtu, 31 Maret 2012

Gangguan Psikis


A.       Konsep Gangguan Psikis
1.         Pemahaman Mengenai Manusia dan Kehidupan Psikis
Apa yang terkandung dalam pribadi manusia, sejatinya bisa dipahami lewat pengamatan terhadap pikiran, perasaan dan kemauan dan isu-isi ketidaksadarannya. Isi-isi kejiwaan dapat disebut subyektif maupun obyektif. Isi kejiwaan tersebut disebut obyektif jika peristiwa itu benar-benar ada, bisa dijelaskan, dapat dikontrol kebenarannya melalui bukti yang nyata.
Apabila suatu isi psikis itu sesuai dengan pendapat sendiri, tidak bisa dikontrol dan dibuktikan menurut selera sendiri, disebut subyektif. Berbagai isi kejiwaan subyektif tersebut memiliki sifat yang ”mengganggu” .
Gangguan-gangguan psikis itu hampir-hampir tidak pernah muncul disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi selalu diakibatkan oleh satu rentetan kompleks faktor penyebab, yaitu oleh faktor organis atau somatis, faktor psikis dan struktur kepribadian, serta lingkungan atau sosial.
a.         Gejala ojektif dan subjektif
Studi mengenai hakikat manusia itu bisa berlangsung melalui pemahaman manusia itu sendiri. Maka minat terhadap perasaan, pikiran, dan tingkah laku sesama manusia, juga pemahaman tentang gejolak-gejolak yang berlangsung dalam ketidaksadaran dalam wilayah-wilayah psikis yang tersembunyi bisa memberikan wawasan kepada kita yaitu:
Pertama, wawasan yang manuasiawi tentang kehidupan manusia dengan segi-segi kekuatan dan kelemahannya.
Kedua, mendapatkan wawasan tentang kehidupan batiniah atau kehidupan psikis sendiri, sehingga bisa dijadikan pelajaran untuk proses pembentukan watak dan kepribadian sendiri.
gejala-gejala psikis yang akan kita pelajari itu bisa disebut subjektif, namun juga bisa disebut objektif.
b.        Introspeksi, intensionalitas dan kesadaran refleksif
Bagi para ahli ilmu jiwa, bereksplorasi dan mengintip di wilayah “kehidupan batiniah” sendiri itu merupakan aktivitas yang mengasyikkan. Sebab, pekerjaan introspeksi dengan penghayatan secara sadar terhadap perbuatan sendiri, tingkah-laku, kehidupan batin, pikiran, perasaan sendiri, keinginan dan segenap unsur kejiwaan lainnya itu merupakan pemahaman primer untuk studi mengenai kejiwaan (psikologi). Lagipula, barangsiapa sedikit atau banyak tidak mengenali kehidupan batiniah sendiri, terutama tidak mengenal perasaan sendiri, orang sedemikian ini akan sulit sekali memahami orang lain, dan akan sulit sekali berkomunikasi dengan orang lain.
Studi intensif mengenai diri sendiri dan kesadaran diri menunjukkan bahwa pengalaman selalu mengandung tiga aspek, yaitu:
1)        Aspek Kognitif (pengenalan atau gnostis)
Misalnya, saya melihat ular, saya membayangkan bentuk hantu. Kedua-duanya adalah aspek kognitif. Pada pengalaman pertama prosesnya berlangsung secara nyata dan jelas. Sedang pada peristiwa kedua, pengenalan berlangsung samar-samar dan jauh dari realitas nyata.
2)        Aspek Emosional (afektif, perasaan)
Dalam hal ini pengenalan selalu disertai perasaan . karena itu pengenalan selalu berwarnakan emosi-emosi tertentu.
3)        Aspek kemauan (volutif, konatif)
Pada aspek kemauan ini kita dapati nafsu, hasrat, cinta, gairah, karsa, dambaan, idaman, usaha, tuntutan.
Pada setiap intensionalitas atau proses kehidupan psikis manusia selalu terdapat ketiga aspek tersebut. Pengenalan selalu disertai perasaan dan karsa. Dan tidak ada nafsu yang tidak disertai pengenalan dan perasaan. Ketiganya selalu berlangsung bersama-sama ataupun beruntun.
2.         Gangguan-Gangguan Fungsi Psikis
Sebagian besar dari tingkah laku manusia didorong oleh impuls-impuls dan keinginan-keinginan yang disadari. Namun disamping itu tidak sedikit perilaku manusia yang disorong oleh proses-proses psikis yang tidak disadari. Kumpulan unsur-unsur ketidaksadaran ini apabila bersifat negative, beroperasinya sering mengganggu ketenangan batin, mengganggu ketenangan jiwa dan integritas kehidupan psikis. Orang lalu menjadi cemas-takut, bingung, panic, putus asa, dll.
Setiap manusia normal dan sehat pasti mengalami perasaan-perasaan gelisah dan pedih seperti tersebut di atas. Hanya saja orang sehat mampu mengatasi semua kesulitan itu. Sedangkan orang yang sakit secara psikis “tetap berputar-putar”, terus menerus hanyut tenggelam dalam kesukaran batinnya, dan tidak mampu menemukan jalan keluar.
Gangguan-gangguan adaptasi-regulasi-integrasi pada fungsi-fungsi psikis itu bisa terjadi pada setiap orang, dan tidak hanya pada orang yang sakit jiwani saja. Kondisi psikis pasien penyakit jiwa kurang lebih bisa disamakan dengan dunia pengalaman sewaktu kita tidur dan bermimpi, yaitu:
a.         Terdapat gambaran-gambaran dan peristiwa-peristiwa yang kacau balau, tidak runtut, tidak teratur. Semua itu berbeda dengan runtutan pikiran dan kesadaran yang logis.
b.        Fantasi, perasaan, pikiran, ketakutan, kecemasan, dan harapan-harapan tampil lebih kuat
c.         Gejala-gejala tersebut berlangsung secara berkesinambungan, terjadi berulang-ulang kali, atau berlangsung dalam waktu yang lama.
d.        Terjadi proses “pemalsuan” terhadap diri sendiri dan lingkungan
Sehubungan dengan uraian di atas, siapa saja yang dalam waktu pendek bersitegang, mau menang sendiri, dan selalu membenarkan diri sendiri saja, lalu “memalsu realitas” yang ada, maka perilaku tersebut tidak ada bedanya dengan tingkah laku orang psikotis dengan penggunaan mekanisme pembelaan dan pelarian diri yang salah.
Jika upaya pemalsuan itu hanya berlangsung pendek saja, dan orang yang bersangkutan segera menyadari sikap-sikapnya yang salah, lalu kembali pada pola-pola yang riil, maka dia disebut masih tetap sehat. Akan tetapi apabila dia terus-menerus bersitegang memalsu realitas yang ada, maka dia disebut psikotis atau gila.

B.       Penyebab Gangguan Psikis
Penyebab gangguan psikis yang dialami oleh pasien ialah: kompleks dari factor-faktor social, psikis, dan organis yang beroperasi secara stimulant bersama yaitu bekerjasamanya lingkungan social yang tidak menguntungkan dan memberikan tekanan yang berat. Ditambah dengan reaksi pemasakan internal yang keliru; jadi ada mekanisme penyelesaian yang salah, ditambah lagi dengan kecendrungan organis/jasmaniah yang kurang beres, yang disebut pula sebagai penyebab konstitusional. Dengan demikian, penyebab penyakit jiwa dan gangguan psikis itu multikausal, dengan adanya interaksi dari ketiga factor di atas.
1.      Factor organic atau fisik (jasmaniah)
Penyakit jasmaniah, terutama yang tidak bisa disembuhkan, yang mengakibatkan kerusakan pada system syaraf otak, pastinya menimbulkan akibat gangguan-gangguan berupa perubahan karakter, dengan gejala amnesties, anomaly-anomali/abnormalitas tingkah laku, proses dementia dan menurun atau hilangnya kesadaran. Banyak penyakit infeksi san pwnyakit pertukaran zat, yang dibarengi dengan beberapa factor fisik lainnya mengakibatkan gejala penyakit.

2.      Factor psikis dan struktur kepribadian
Gangguan-gangguan psikis dalam wujud neurosa, psikosa, dan psikopat itu merupakan ekstremitas (keterlaluan yang cenderung patologis) dari tempramen-tempramen. Tempramen adalah konstitusi psikis yang erat berpadu dengan konstitusi jasmaniah, yang kurang lebih konstan sifatnya, berupa primaritas, sekundaritas, kepekaan terhadap warna, emosionalitas, aktifitas, ekspansivitas, sentimentalitas, dan lain-lain. Semua unsure tersebut tidak dapat diubah, diajarkan, dididik, maupun dipengaruhi, sehingga sifatnya relative konstan.
Pada kepribadian dengan tipe amorf dan apatikus, gejala-gejala gangguan psikis yang khas nyaris tidak pernah muncul. Sebaliknya, pada tipe nerveus cemderung menjadi histeris, neurasthenis dan hipokondris. Kejadian-kejadian tadi disebabkan oleh sifat tempramen-tempramennya, dengan mekanisme-reaktif dan pemasakan pengalaman yang “khas salah” dan menjurus patologis. Pada tipe sentimental banyak muncul gejala depresi, melankolis dan psikhasteni. Tipe sanguinikus banyak menampilkan gejala-gejala: mania, gembira, dan lepas hati yang sifatnya patologis. Sedangkan pada tipe gepassioneerd sering kita jumpai gangguan paranoia.
Pada tipe-tipe yang emosional misalnya pada tipe nerveus dan sentimental, banyak dijumpai varian dengan warna-perasaan yang buram dan negatif depresif, karena individu sifatnay sangat emosional, namun tidak aktif. Pada tipe sanguinikus dan kholerikus, biasanya terdapat waran-perasaan positif. Selanjutnya eksremitas dari tempramennya bisa menyebabkan gangguan-gangguan psikis yang mendorong seseorang menjadi criminal.
3.      Factor milieu dan keluarga
Factor social paling utama yang memberikan pengaruh-pengaruh predisposional psikotis pada anak-anak dan orang muda ialah : keluarga. Yaitu bentuk keluarga yang sebagai berikut:
a)         Keluarga dengan ayah-ibu yang tidak mampu berfungsi sebagai pendidik, yang defisien sebagai pendidik.
b)        Tidak berfungsinya keluarga sebagai lembaga psiko-sosial. Orang tua tidak mampu mengintegrasikan anaknya dalam keutuhan keluarga; masing-masing tercerai-berai, hidup atomistis bagai atom yang tercecer. Orang tua tidak mampu menyalurkan impuls anak melalui kanal penyalur yang wajar, sesuai dengan norma susila. Ketidaksanggupan keluarga memberikan peranan sisoal dan status social pada anak-anaknya itu justru memusnahkan harga diri anak; dan anak merasa sangat kecewa serta putus asa.
Selanjutnya, bentuk keluarga yang memprodusir anak-anak neurotis biasanya memilki cirri-ciri sebagai berikut:
a)         Dituntutnya kepatuhan total anak.
b)        Dominasi dan kekuasaan mutlak atau sikap otoriter orangtua.
c)         Pengaruh ayah yang bertentangan dengan pengaruh ibu.
d)        Pola hidup orangtua yang berantakan.
Perkembangan jiwa yang sehat hanya dapat berlangsung apabila keluarga dan milieu bisa menyajikan situasi sebagai berikut:
a)         Anak dibiasakan belajar bertanggung jawab
b)        Orangtua bersikap toleran terhadap ledakan impuls-impuls dan emosi-emosi anaknya.
c)         Diusahakan adanya proses identifikasi anak terhadap orangtua yang sifatnya sehat.
d)        Orangtua selalu membimbing dan mendorong agar anak-anaknya mampu menentukan sikap, membuat rencana hidup serta memiliki arah dan tujuan finalnya.
e)         Orang tua selalu member contoh sikap hidup yang baik.
4.      Factor sosio-budaya
Selama masyarakat modern masih dipenuhi oleh banyaknya ketidakaddilan, kesewenang-wenangan, pemerasan, dan tindak kekerasan, dan selama orang-orang muda tidak mampu mengembangkan harapan yang memberikan bobot dan arti dalam hidupnya; selama masih banyak anak-anak dan orang muda yang dicampakan atau diabaikan secara afektif, maka selama itu akan bertambah banyak jumlah orang-orang muda yang kebingungan lalu kecanduan obat-obat bius. Juga semakin banyak yang menjadi neurotis dan psikotis.
Gejala sentral pada masa modern sekarang ini adalah: hilangnya penguasaan terhadap konflik-konflik dan kekalutan batin sendiri (hilangnya control diri). Muncul pula banyak gejala autism (menutup diri) dan egosentrisitas yang ekstrim, sehingga orang tidak bisa tersentuh sama sekali oleh kehadiran orang lain atau oleh masalah orang lain. Kekacauan dalam diri sendiri membuat mereka tidak tanggap terhadap keadaan lingkungannya. Lama kelamaan mereka menjadi neurotis dan psikotis.

C.       Cara Mengatasi Stres dan Mencapai Jiwa yang Sehat
1.         Pelihara kesehatan kita, sebab kesehatan yang buruk merupakan stresor. Sakit dan keletihan menyebabkan kita tidak mampu berpikir dengan baik. Oleh karena itu, makanlah dengan gizi seimbang, olah raga teratur, istirahat yang cukup, dan pola hidup sehat. Belajar hidup tertib, teratur, tetapkan tujuan hidup yang dapat kita jangkau, dan berusahalah mencapainya.
2.         Setiap orang memiliki kekurangan dan kelemahan, terimalah diri dan lingkungan kita apa adanya, apabila hal itu tidak dapat diubah. Jauhkan pikiran dan perasaan yang tidak baik tentang orang atau situasi, hindari menyalahkan orang lain atau situasi, kemudian cari penyebab pikiran kita yang negatif tersebut dan upayakan mengatasinya.
3.         Bila mengalami stres, lakukanlah pekerjaan yang disukai. Selain itu, jangan lupa mengurangi ketegangan dengan latihan relaksasi untuk mengendorkan otot dan membuat tenang.
4.         Belajar dari pengalaman untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, kita memerlukan sahabat untuk mengobrol dan tertawa bersama, atau bahkan akan menolong kita saat diperlukan.
5.         Tingkatkan iman dan takwa dengan cara mengikuti kegiatan keagamaan, ibadah bersama, dan selalu mengingat Tuhan dalam menjalani kehidupan.

























BAB III
PENUTUP

A.       Simpulan
1.         Studi intensif mengenai diri sendiri dan kesadaran diri menunjukkan bahwa pengalaman selalu mengandung aspek kognitif, aspek emosional dan aspek kemauan yang selalu berlangsung bersama-sama ataupun beruntun.
2.         Gangguan-gangguan adaptasi-regulasi-integrasi pada fungsi-fungsi psikis itu bisa terjadi pada setiap orang, dan tidak hanya pada orang yang sakit jiwani saja.
3.         Penyebab gangguan psikis yang dialami oleh pasien ialah kompleks dari factor-faktor social, psikis, dan organis yang beroperasi secara stimulant bersama yaitu bekerjasamanya lingkungan social yang tidak menguntungkan dan memberikan tekanan yang berat. Sehingga penyebab penyakit jiwa dan gangguan psikis itu multikausal, dengan adanya interaksi dari ketiga factor tersebut.
4.         Untuk mencapai jiwa yang sehat diperlukan usaha dan waktu untuk mengembangkan dan membinanya. Jiwa yang sehat dikembangkan sejak masa bayi hingga dewasa, dalam berbagai tahapan perkembangan. Pengaruh lingkungan terutama keluarga sangat penting dalam membina jiwa yang sehat

B.       Saran
1.      Bagi Siswa
Agar terhindar dari gangguan psikis, sebaiknya dilakukan usaha preventif dari siswa. Seperti menghindari hal-hal yang dapat membuat stress sehingga terhindar resiko terkena gangguan psikis yang jelas sangat merugikan kehidupan siswa sehari-hari.


2.      Bagi Orang Tua
Sebaiknya orang tua selalu mengawasi perilaku anaknya. Dan ikut serta membantu anak agar terhindar dari resiko terkena gangguan psikis. Orang tua juga sebaiknya member contoh yang baik bagi anak-anaknya.
3.      Bagi Sekolah
Sebagai tempat belajar bagi siswa-siswanya, sekolah diharapkan mampu memfasilitasi kebutuhan siswa yang notabene tidak hanya kebutuhan akademik saja. Sekolah juga diharapkan mampu mengurangi impuls-impuls yang dapat menyebabkan stress bagi siswa.
4.      Bagi Konselor
Konselor diharapkan mampu melakukan upaya preventif agar siswa-siswanya terhindar dari resiko gangguan psikis. Apabila sudah terlihat ada gejala-gejala gangguan psikis pada siswa, konselor diharapkan tanggap dan mampu melakukan upaya penyelesaian masalah bagi siswa. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan menggunakan layanan-layanan yang ada di dalam Bimbingan dan Konseling.















BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Kartono, Kartini. 2010. Patologi Sosial Gangguan- Gangguan Kejiwaan Jilid 3. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar